Jumat, 26 November 2021

QUICK GUIDE UPLINK POWER CONTROL MITEQ

 QUICK GUIDE UPLINK POWER CONTROL MITEQ



1.     INSTALASI

Perangkat Uplink Power Control (UPC) MITEQ didesain dipasang dalam rak atau rack mounting. Standar rak adalah 19” equipment rack. Pastikan perangkat terpasang dengan baik pada rak.

Prosedur Turn-On

1.      Setelah perangkat terpasang, hubungkan semua koneksi eksternal.

2.      Hidupkan perangkat dengan menekan switch On/Off pada front panel.

 

2.      KONFIGURASI

Setup Screen

Untuk menampilkan SETUP screen, tekan tombol ‘SETUP’ pada front panel.

 

Tombol ‘A’ sampai dengan ‘E’ mempunyai fungsi terkait dengan pengaturan yang tertampil pada subscreen. Melalui subscreen inilah parameter-parameter setup dapat diatur. SETUP screen menampilkan parameter-parameter setup secara sederhana.

        Secara garis besar langkah-langkah konfigurasi adalah sebagai berikut :

1.      Pengaturan Tanggal dan jam.

2.      Menentukan Uplink Power Correction Algorithm.

3.      Setting dan kalibrasi receiver.

4.      Konfigurasi masing-masing Attenuator Channel.

5.      Setting parameter komunikasi remote.

 

System Settings


Setelah menampilkan SETUP Screen, tekan tombol ‘A’ untuk masuk ke System Settings.

Pengaturan tanggal dan jam, serta Uplink Power Correction Algorithm dilakukan pada subscreen ini. Pengaturan masing-masing parameter pada subscreen sesuai dengan tombol ‘A’ sampai dengan ‘E’ :

  1. Tekan tombol parameter yang akan diatur (A-E), pilih nilai yang dikehendaki dengan memutar scroll-knob, lalu tekan lagi tombol tersebut setelah parameter ditentukan.
  2. Tekan tombol ‘ENT’ setelah selesai tiap pengaturan untuk menyimpan dan mengaktifkan pengaturan baru. Apabila tombol ini tidak ditekan dalam waktu 10 detik setelah pengaturan, maka sistem akan kembali ke pengaturan sebelumnya.

Receiver Settings

Kedua subscreen Receiver Input, A dan B digunakan untuk setup dan kalibrasi input tegangan Receiver. Mode receiver dan Fault input ditampilkan di bawah judul subscreen.

Data kalibrasi direpresentasikan dalam grafik kuat sinyal versus tegangan (V) yang digunakan pada input receiver. Range dari tegangan yang dipilih ditunjukkan dengan sumbu vertical grafik. Tegangan actual dari receiver akan terukur dan ditampilkan di bawah tampilan tanggal dan jam. Input dari receiver dapat dikalibrasi hingga range 30 dB.

Kondisi dari Clear Sky (CS) ditampilkan di bawah tampilan grafik. Jika nilai CS merupakan salah satu dari titik kalibrasi, maka titik tersebut akan diidentifikasikan dengan tanda ‘X’ pada grafik.


Receiver Input

Untuk menampilkan subscreen Receiver ‘A’ Input, tekan tombol ‘B’ pada SETUP screen, dan tekan tombol ‘C’ apabila ingin menampilkan subscreen Receiver ‘B’ Input.

Tombol ‘A’ dan ‘B’ akan mengurutkan cursor vertical ke kanan dan ke kiri masing-masing sepanjang range kuat sinyal Downlink dalam penambahan 1 dB. Kuat sinyal Downlink dan tegangan yang sesuai dengan posisi cursor akan ditunjukkan di atas grafik.



Receiver Calibration

Untuk melakukan kalibrasi  pada receiver, tekan tombol ‘E’ pada subscreen Receiver Input dan masuk pada subscreen Receiver Calibration.



Setelah itu, lakukan langkah-langkah berikut :

1.      Gunakan 30 dB step attenuator sejalur dengan receiver untuk pengukuran data kalibrasi. Tetapi apabila data sudah diketahui, kita dapat memasukkan data secara numeric dan tidak perlu menggunakan attenuator.

2.      Tekan tombol ‘C’. Akan muncul peringatan: “WARNING – selecting a voltage range will also erase all existing data.”

Note : Apabila memasukkan data kalibrasi baru, maka data existing akan terhapus.  

3.      Putar scroll-knob untuk memilih range tegangan yang diinginkan.

4.      Tekan ‘ENT’ untuk memasukkan range tegangan yang baru dan menghapus data kalibrasi sebelumnya. Posisi kursor akan menunjukkan nilai maksimum dari kuat sinyal Downlink.

5.      Jika input tegangan receiver yang bersesuaian dengan posisi kursor tidak diketahui, maka harus diukur terlebih dahulu dan disimpan. Untuk mengukur tegangan, gunakan attenuator untuk mengetahui kuat sinyal yang sesuai. Lalu tekan tombol ‘D’ maka input tegangan yang terukur akan disimpan dan kursor akan berpindah ke posisi berikutnya.       Input tegangan ditampilkan di bawah tampilan tanggal dan jam.

Jika nilai input tegangan receiver sudah diketahui, maka dapat dimasukkan secara numeric dengan memutar scroll-knob sampai nilai tegangan yang diinginkan muncul diatas grafik. Tekan ‘ENT’ untuk menyimpan.

6.      Ulangi langkah 5 hingga semua titik terkalibrasi.

7.      Gunakan tombol ‘A’ dan ‘B’ untuk memilih Downlink Strength yang merepresentasikan kondisi Clear Sky.

8.      Tekan tombol ‘E’. Akan muncul pesan : “PRESS ‘ENT’ TO SET CLEAR SKY”

9.      Tekan ‘ENT’ untuk menyimpan kondisi Clear Sky yang dipilih.

10.  Receiver sudah dikalibrasi.

 

Receiver Mode dan Fault Configuration

Untuk memilih mode receiver, tekan tombol ‘C’ pada subscreen Receiver Input. Untuk konfigurasi receiver fault, tekan tombol ‘D’. Putar scroll-knob untuk memilih. Tekan ‘ENT’ untuk menyimpan.

 

Attenuator Channel Configuration

      Konfigurasi attenuator menentukan apakah Uplink Power Correction Algorithm telah mengontrol masing-masing Attenuator Channel. Dan juga ketika UPC mengontrol sebuah Attenuator Channel, bagaimana Uplink Power Correction bekerja.

Untuk menampilkan subscreen Attenuator Configuration, tekan tombol ‘D’ pada SETUP screen.



Attenuator Operating Mode dan Manual Attenuation

Langkah-langkah pengaturan :

1.      Tekan tombol ‘A’ dan ‘B’ untuk memilih channel yang diinginkan.

2.      Tekan tombol ‘C’ untuk merubah operating mode. Apabila ingin merubah attenuasi secara manual, tekan tombol ‘D’.

3.      Gunakan scroll-knob untuk memilih pengaturan yang diinginkan.

4.      Tekan tombol ‘ENT’ untuk menyimpan.

 

Jika mode dipilih manual, maka attenuasi akan tetap tidak berubah sampai kita menggantinya ke mode auto. Jika kita memasang Attenuator Channel existing secara Off line, maka akan men-switch Attenuator Channel tersebut ke jalur fail-safe.

Note : Ketika menginstal sebuah attenuator channel, direkomendasikan untuk memasang fixed attenuator dengan nilai yang sama dengan attenuasi Clear Sky, pada jalur failsafe.

 

Attenuator Constant

Tekan tombol ‘E’ untuk masuk ke subscreen Attenuator Constants. Akan muncul tampilan seperti gambar di bawah. Subscreen ini menampilkan local control dari Attenuator Channel dan konsanta sesuai dengan Uplink Power Correction Algorithm yang dipilih.



Power Ratio dan Clear Sky

Langkah-langkah pengaturan :

1.      Tekan tombol ‘A’ dan ‘B’ pada subscreen Attenuator Constant untuk memilih channel yang diinginkan.

2.      Tekan tombol ‘C’ untuk merubah nilai power ratio dari attenuator channel yang dipilih. Apabila ingin merubah attenuasi Clear Sky, tekan tombol ‘D’.

3.      Gunakan scroll-knob untuk memilih nilai yang diinginkan.

4.      Tekan ‘ENT’ untuk menyimpan.

 

Maximum Step Size dan Attenuator Channel Offset

Langkah-langkah pengaturan :

1.      Tekan tombol ‘E’ pada subscreen Attenuator Constants. Maka akan muncul tampilan berikut :



2.      Tekan tombol ‘A’ dan ‘B’ untuk memilih channel yang diinginkan.

3.      Tekan tombol ‘C’ untuk merubah Maximum Attenuator Step Size. Jika ingin merubah Attenuator Channel Offset, tekan tombol ‘D’.

4.      Gunakan scroll-knob untuk memilih nilai yang diinginkan.

5.      Tekan ‘ENT’ untuk menyimpan.

 

Remote Communication Settings

Subscreen Remote Communication digunakan untuk pengaturan remote operation UPC. Untuk masuk ke subscreen ini, tekan tombol ‘E’ pada SETUP screen.



Langkah-langkah konfigurasi :

1.      Pilih konfigurasi yang akan diatur dengan menekan tombol (B-E), pilih pengaturan yang dikehendaki dengan memutar scroll-knob, lalu tekan lagi tombol tersebut setelah parameter ditentukan.

2.      Tekan tombol ‘ENT’ setelah selesai tiap pengaturan untuk menyimpan dan mengaktifkan pengaturan baru. Apabila tombol ini tidak ditekan dalam waktu 10 detik setelah pengaturan, maka sistem akan kembali ke pengaturan sebelumnya.

 

Keterangan :

1.      Remote address untuk serial bus dengan address 64-95 Decimal. Untuk IEEE-488 bus dengan 00-31 Decimal.

2.      Baud Rate dan Parity tidak dapat diaplikasikan untuk opsi IEEE-488.

 

 

3.  ATTENUATOR CHANNELS

Langkah-langkah melepas existing attenuator channel :

1.      Nyalakan PSA dan PSB.

2.      Jika UPC pada mode Remote, ubah ke mode Local melalui tombol REMOTE pada front panel.

3.      Masuk ke SETUP screen.

4.      Masuk ke Attenuator Configuration.

5.      Pilih Attenuator Channel yang akan dilepas.

6.      Ganti mode operasi Attenuator Channel menjadi Off-line (OFF). Lalu tekan ‘ENT’.

7.      Lepas baut pengaman attenuator dan cabut kabel interface dari attenuator modul.

8.      Lepas Attenuator Modul dari chassis.

9.      Pasang kembali penutup slot yang kosong dan baut pengaman.

 

Langkah-langkah menginstall attenuator channel :

1.      Tentukan slot dimana attenuator channel akan dipasang.

2.      Lepas baut pengaman dan penutup slot, temukan kabel interface sesuai dengan channel yang akan dipasang.

3.      Pasang kabel interface pada Attenuator Modul yang akan dipasang.

4.      Masukkan Attenuator Modul pada slot yang kosong.

5.      Nyalakan PSA dan PSB

6.      Jika UPC pada mode Remote, ubah ke mode Local melalui tombol REMOTE pada front panel.

7.      Masuk ke SETUP screen.

8.      Masuk ke Attenuator Configuration.

9.      Lakukan konfigurasi Attenuator.


Nah demikian QUICK GUIDE UPLINK POWER CONTROL MITEQ 

Semoga bermanfaat...

Load Balancing 2 ISP + Failover 3 ISP (PCC dan Recursive Route)

 



Pada kali  ini, anggap saja kita mempunyai 3 ISP (2 dedicated bandwidth 50Mbps dan 1 shared bandwidth 100Mbps). Jika kita melakukan load balancing sekaligus ke 3 ISP tersebut maka performa jaringan kita akan menjadi tidak optimal karena ada 1 ISP memiliki shared bandwidth. 

Meskipun angkanya lebih besar daripada yang dedicated, tetapi shared artinya 100Mbps itu masih dibagi-bagi lagi, biasanya bandwidth rata-rata yang kita dapatkan hanya sekitar 15-20Mbps.

Oleh karena itu, kita hanya akan melakukan load balancing menggunakan 2 ISP yang memiliki dedicated bandwidth. Sementara ISP yang memiliki shared bandwidth akan dijadikan sebagai backup ketika semua ISP dedicated bandwidth mengalami masalah (down).

Syarat untuk memahami artikel ini, kamu harus memahi hal-hal berikut:

  • Pengalamatan IPv4
  • Konsep Firewall Mikrotik
  • Static Route

Referensi:

Akses Cepat:

  1. Topologi
  2. Preconfig
  3. Konfigurasi Load Balance & Failover
  4. Pengujian


A. TOPOLOGI

HostnameInterfaceAddress
ISP-1(to Gateway)11.11.11.1/24
ISP-2(to Gateway)22.22.22.1/24
ISP-3(to Gateway)33.33.33.1/24
Gatewayether1-ISP111.11.11.254/24
ether2-ISP222.22.22.254/24
ether3-ISP333.33.33.254/24
ether4-LAN192.168.1.1/24
PC (LAN)eth (to Gateway)192.168.1.X/24


B. PRECONFIG

1. Konfigurasi IP Address

## berikut ini konfigurasi IP menggunakan cara statis,
## bisa juga menggunakan cara dinamis (dhcp-client).
/ip address
add address=11.11.11.254/24 interface=ether1-ISP1
add address=22.22.22.254/24 interface=ether1-ISP2
add address=33.33.33.254/24 interface=ether1-ISP3
add address=192.168.100.1/24 interface=ether4-LAN

2. Konfigurasi DNS Server

## jangan gunakan DNS bawaan ISP,
## karena terkadang penggunaanya dibatasi.
## gunakan ip public: 8.8.8.8, 208.67.222.222, 208.67.220.220, dll atau dns private milikmu sendiri.
/ip dns
set servers=8.8.8.8,208.67.222.222

3. Interface List
Untuk mempermudah identifikasi dan konfigurasi, kelompokan interface menjadi kelompok LAN untuk interface yang mengarah ke jaringan lokal dan WAN untuk interface yang menuju ke jaringan publik (ISP).

/interface list
add name=LAN
add name=WAN
/interface list member
add interface=ether1-ISP1 list=WAN
add interface=ether2-ISP2 list=WAN
add interface=ether3-ISP3 list=WAN
add interface=ether4-LAN list=LAN

4. NAT

/ip firewall nat
add action=masquerade chain=srcnat out-interface-list=WAN

C. Konfigurasi Load Balancing dan Failover

Load balancing adalah teknologi yang memungkinkan pembagian traffic koneksi ke beberapa jalur koneksi secara seimbang. Contoh pada lab kita kali ini, setiap traffic dari client ke internet akan diteruskan ke dua ISP (ISP1 dan ISP2).

Failover memungkinkan traffic tetap bisa diteruskan ke internet meskipun salah satu jalurnya mati. Failover merupakan hal yang (harusnya) melekat pada load balancing. Kalau ada load balancing pasti ada failover. Contoh: kita akan load balancing menggunakan ISP1 dan ISP2, ketika ISP1 mati maka traffic tetap bisa diteruskan melalui ISP2. Demikian pula sebaliknya, ketika ISP2 mati maka traffic tetap bisa diteruskan melalui ISP1.

Nah, di lab ini, kita sebenarnya punya 3 ISP, kita akan membuat ISP3 sebagai backup ketika ISP1 dan ISP2 mati. Kenapa ISP3 tidak diload balance? Karena IPS3 memiliki shared bandwidth (bandwidthnya tidak tetap) sehingga berpotensi membuat jaringan tidak optimal.

Sebelum memulai konfigurasi, supaya mempermudah membuat rule mangle, buatlah address list yang isinya alamat network LAN dan network yang langsung terkoneksi ke router. Contoh pada topologi di atas, ada ether1-ISP1, ether2-ISP2, ether3-ISP3, dan jaringan LAN (hanya 1), maka:

/ip firewall address-list
add address=11.11.11.0/24 list=LAN
add address=22.22.22.0/24 list=LAN
add address=33.33.33.0/24 list=LAN
add address=192.168.100.0/24 list=LAN

Jika sudah, buatlah mangle yang berfungsi untuk menandai paket yang berasal dari (address-list) LAN menuju ke selain (address-list) LAN. Selain itu mangle ini juga akan membagi (load balance) setiap paket yang lewat menggunakan metode PCC (Per Connection Classifier). Paket tersebut bisa diklasifikasikan berdasarkan src-address, src-port, dst-address, dan dst-port.

1. Firewall Mangle

/ip firewall mangle
add action=mark-routing chain=prerouting src-address-list=LAN dst-address-list=!LAN \
    dst-address-type=!local new-routing-mark=route_to_ISP1 passthrough=no \
    per-connection-classifier=both-addresses:2/0
add action=mark-routing chain=prerouting src-address-list=LAN dst-address-list=!LAN \
    dst-address-type=!local new-routing-mark=route_to_ISP2 passthrough=no \
    per-connection-classifier=both-addresses:2/1

Nah sesuai konfig di atas, untuk lab ini, kita akan menggunakan src-address dan dst-address saja (both-address) untuk mengklasifikasikan paket yang lewat. Jadi setiap paket yang lewat akan diberi mark route_to_ISP1 dan route_to_ISP2 secara bergantian sesuai nilai denominator dan remainder.

Contoh, karena bandwidth ISP1 dan ISP2 sama yaitu 50MB, maka kita bisa membaginya dengan perbandingan 1:1. Sehingga kita bagi menjadi dua grup saja. Jumlah grup tersebut adalah nilai denominator. Sedangkan nilai remainder adalah nilai index grup tersebut, contoh grup kita ada 2, maka kita akan buat mangle dengan remainder 0 dan 1 (remainder dimulai dari 0).
Grup 0 akan diberi mark route_to_ISP1.
Grup 1 akan diberi mark route_to_ISP2.

Hal yang berbeda, jika kita punya 2 ISP yang memiliki bandwidth berbeda: 30Mbps dan 10Mbps. Maka kita bisa menggunakan perbandingan 3:1. Berarti nilai denominator-nya adalah 4, dan grupnya (remainder) ada 4 (0,1,2,3). Agar seimbang dan optimal, 3 grup (contoh:0,1,2) diberi mark untuk diteruskan ke ISP 30Mbps, sementara 1 grup sisanya diberi mark untuk ISP yang 10Mbps. Tapi kasus kita ini bandwidthnya sama, maka kita bisa gunakan perbandingan 1:1 saja.

Karakter load balancing PCC both-address adalah paket yang memiliki source address dan destination address yang sama akan selalu dilewatkan ke internet melalui ISP yang sama, selama masih ada session yang established.
Contoh:
1. Src:192.168.1.5, Dst:8.8.8.8, dilewatkan melalui ISP1.
2. Src:192.168.1.5, Dst:157.240.208.35, dilewatkan melalui ISP2.
3. Src:192.168.1.7, Dst:157.240.208.35, dilewatkan melalui ISP1.
4. Src:192.168.1.8, Dst:13.250.177.223, dilewatkan melalui ISP2.

Misalkan ada paket ke-5 seperti ini:
5. Src:192.168.1.5, Dst:157.240.208.35
Jika session paket nomor 2 di atas masih ADA, maka akan dilewatkan melalui ISP2.
Jika session paket nomor 2 di atas sudah TIDAK ADA, maka akan dilewatkan melalui ISP1.

Selanjutnya kita buat recursive route menggunakan protocol static route untuk me-route traffic ke internet. Kita catat dulu gateway masing-masing ISP.
ISP1: 11.11.11.1
ISP2: 22.22.22.1
ISP3: 33.33.33.1

Karena ada 3 ISP yang akan kita gunakan untuk recursive route ke internet, maka kita memerlukan 3 IP publik yang ada di internet untuk dijadikan recursive default gateway. Pastikan IP ini bisa di-ping dan jarang down.
ISP1: 11.11.11.1 ==> 1.0.0.1
ISP2: 22.22.22.1 ==> 1.1.1.1
ISP3: 33.33.33.1 ==> 8.8.4.4

/ip route

## Static host route ke public ip yang ada di internet.
## Atur nilai scope yang baru (bedakan dari default scope=30), contoh=25.
add distance=1 dst-address=1.0.0.1/32 gateway=11.11.11.1 scope=25
add distance=1 dst-address=1.1.1.1/32 gateway=22.22.22.1 scope=25
add distance=1 dst-address=8.8.4.4/32 gateway=33.33.33.1 scope=25

## Default gateway untuk me-route traffic yang berasal dari router itu sendiri.
## Nilai target-scope samakan dengan nilai scope pada static host route.
## Parameter check-gateway=ping membuat router melakukan ping ke gateway setiap interval 10 detik,
## Jika ping 2x timeout secara berturut turut,
## maka link ke ISP yang recursive ke gateway tersebut dianggap down.
add check-gateway=ping distance=1 gateway=1.0.0.1 target-scope=25
add check-gateway=ping distance=2 gateway=1.1.1.1 target-scope=25
add check-gateway=ping distance=3 gateway=8.8.4.4 target-scope=25

## Default gateway untuk me-route traffic yang diberi mark route_to_ISP1.
## Nilai target-scope samakan dengan nilai scope pada static host route.
## Atur prioritas menggunakan distance: ISP1, ISP2, ISP3
add distance=1 gateway=1.0.0.1 routing-mark=route_to_ISP1 target-scope=25
add distance=2 gateway=1.1.1.1 routing-mark=route_to_ISP1 target-scope=25
add distance=3 gateway=8.8.4.4 routing-mark=route_to_ISP1 target-scope=25

## Default gateway untuk me-route traffic yang diberi mark route_to_ISP2.
## Nilai target-scope samakan dengan nilai scope pada static host route.
## Atur prioritas menggunakan distance: ISP2, ISP1, ISP3
add distance=1 gateway=1.1.1.1 routing-mark=route_to_ISP2 target-scope=25
add distance=2 gateway=1.0.0.1 routing-mark=route_to_ISP2 target-scope=25
add distance=3 gateway=8.8.4.4 routing-mark=route_to_ISP2 target-scope=25

Nah berikut hasil konfigurasi mangle dan routing.


D. PENGUJIAN

1. Traceroute dari client (LAN) ke internet.

Biasanya setiap traceroute ke tujuan yang berbeda akan melewati ISP yang berebeda. Tetapi kalau kamu mengetesnya melalui PC client yang ramai koneksinya, ketika traceroute mungkin selalu melewati ISP yang sama.

2. Matikan modem ISP1

Ketika ISP1 down, maka dalam waktu kurang dari 30 detik, active route akan beralih ke ISP2.

3. Matikan modem ISP1 dan ISP2

Ketika ISP2 down, maka dalam waktu kurang dari 30 detik, active route akan beralih ke ISP3.

Apakah total bandwidthnya menjadi sama dengan akumulasi total bandwidth ISP1 dan ISP2? Ya total bandwidth menjadi 50+50 = 100Mbps, tetapi ketika melakukan download single file, maka maksimal 50Mbps karena setiap paket yang memiliki src-address dan dst-address yang sama akan hanya melewati salah satu ISP saja.

Tags: pcc mikrotik, load balancing mikrotik, load balance pcc, load balance pcc mikrotik, load balancing 2 isp, load balancing 3 isp, load balancing 2 wan, load balancing 3 wan, pcc mikrotik 2 wan, pcc mikrotik 3 wan, pcc mikrotik 2 isp, pcc mikrotik 3 isp, pcc mikrotik dan failover, perbedaan load balancing dan failover, cara konfigurasi load balancing mikrotik, konfig pcc mikrotik, traffic sharing mikrotik, load balancing 2 isp dan 1 isp backup, mikrotik pcc, cara kerja pcc, apa itu pcc, per connection classifier, routing rekursif mikrotik, recursiv route mikrotik, check-gateway mikrotik, ip route distance mikrotik, apa itu ip route distance mikrotik, fungsi check-gateway mikrotik, interval check-gateway ping mikrotik, interval check-gateway mikrotik, recursiv static route mikrotik.

Selasa, 23 November 2021

Oscilloscope dan Fungsinya

 Pengertian tentang Oscilloscope dan Fungsinya



Osiloskop (Oscilloscope) merupakan alat ukur elektronik. Dengan menggunakan alat ukur Oscilloscope ini, kita dapat mengukur frekwensi, periode dan melihat bentuk-bentuk gelombang seperti bentuk gelombang sinyal audio, sinyal video, dan bentuk gelombang Tegangan Listrik Arus Bolak Balik, maupun Tegangan Listrik Arus Searah yang berasal dari catu daya/baterai. Dengan sedikit melakukan pengaturan kita juga bisa mengetahui beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal keluaran.
Osiloskop 
Osiloskop terdiri dari dua bagian yaitu Display dan Panel Control :

Display
Display menyerupai tampilan layar pada televisi. Display pada Oscilloscope berfungsi sebagai tempat tampilan sinyal uji. Pada Display Oscilloscope terdapat garis-garis melintang secara vertikal dan horizontal yang membentuk kotak-kotak yang disebut dengan div. Arah horizontal mewakili sumbu waktu dan garis vertikal mewakili sumbu tegangan.

Panel Control
Panel kontrol berisi tombol-tombol yang bisa digunakan untuk menyesuaikan tampilan di layar. Tombol-tombol pada panel osiloskop antara lain :
• Focus : Digunakan untuk mengatur fokus
• Intensity : Untuk mengatur kecerahan garis yang ditampilkan di layar
• Trace rotation : Mengatur kemiringan garis sumbu Y=0 di layar
• Volt/div : Mengatur berapa nilai tegangan yang diwakili oleh satu div di layar
• Time/div : Mengatur berapa nilai waktu yang diwakili oleh satu div di layar
• Position : Untuk mengatur posisi normal sumbu X (ketika sinyal masukannya nol)
• AC/DC : Mengatur fungsi kapasitor kopling di terminal masukan osiloskop. Jika tombol pada posisi AC maka pada terminal masukan diberi kapasitor kopling sehingga hanya melewatkan komponen AC dari sinyal masukan. Namun jika tombol diletakkan pada posisi DC maka sinyal akan terukur dengan komponen DC-nya dikutsertakan.
• Ground : Digunakan untuk melihat letak posisi ground di layar.
• Channel 1/ 2 : Memilih saluran / kanal yang digunakan. Pada umumnya osiloskop terdiri dari dua kanal (Dual Trace) yang bisa digunakan untuk melihat dua sinyal yang berlainan, misalnya kanal satu dipasang untuk melihat sinyal masukan dan kanal dua untuk melihat sinyal keluaran.
Lebih rinci perhatikan gambar panel kontrol Oscilloscope Dual Trace berikut :
Panel kontrol Oscilloscope 

Keterangan gambar panel kontrol Osilokop Dual Trace diatas :
1. VERTICAL INPUT : merupakan input terminal untuk channel-A/saluran A.

2. AC-GND-DC : Penghubung input vertikal untuk saluran A.
• Jika tombol pada posisi AC, sinyal input yang mengandung komponen DC akan ditahan/di-blokir oleh sebuah kapasitor.
• Jika tombol pada posisi GND, terminal input akan terbuka, input yang bersumber dari penguatan internal di dalam Oscilloscope akan di-grounded.
• Jika tombol pada posisi DC, input terminal akan terhubung langsung dengan penguat yang ada di dalam Oscilloscope dan seluruh sinyal input akan ditampilkan pada layar monitor.

3. MODE
• CH-A : tampilan bentuk gelombang channel-A/saluran A.
• CH-B : tampilan bentuk gelombang channel-B/saluran B.
• DUAL : pada batas ukur (range) antara 0,5 sec/DIV – 1 msec (milli second)/DIV, kedua frekuensi dari kedua saluran (CH-A dan CH-B) akan saling berpotongan pada frekuensi sekitar 200k Hz. Pada batas ukur (range) antara 0,5 msec/DIV – 0,2 ยต sec/DIV saklar jangkauan ukur kedua saluran (channel/CH) dipakai bergantian.
• ADD : CH-A dan CH-B saling dijumlahkan. Dengan menekan tombol PULL INVERT akan diperoleh SUB MODE.

4. VOLTS/DIV variabel untuk saluran (channel)/CH-A.

5. VOLTS/DIV pelemah vertikal (vertical attenuator) untuk saluran (channel)/CH-A.
• Jika tombol “VARIABLE” diputar ke kanan (searah jarum jam), pada layar monitor akan tergambar tergambar tegangan per “DIV”. Pilihan per “DIV” tersedia dari 5 mV/DIV – 20V/DIV.

6. Pengatur posisi vertikal untuk saluran (channel)/CH-A.

7. Pengatur posisi horisontal.

8. SWEEP TIME/DIV.

9. SWEEP TIME/DIV VARIABLE.

10. EXT.TRIG untuk men-trigger sinyal input dari luar.

11. CAL untuk kalibrasi tegangan pada 0,5 V p-p (peak to peak) atau tegangan dari puncak ke puncak.

12. COMP.TEST saklar untuk merubah fungsi Oscilloscope sebagai penguji komponen (component tester). Untuk menguji komponen, tombol SWEEP TIME/DIV di “set” pada posisi CH-B untuk mode X-Y. tombol AC-GND-DC pada posisi GND.

13. TRIGGERING LEVEL.

14. LAMPU INDIKATOR.

15. SLOPE (+), (-) penyesuai polaritas slope (bentuk gelombang).

16. SYNC untuk mode pilihan posisi saklar pada; AC, HF REJ, dan TV.

17. GND terminal ground/arde/tanah.

18. SOURCE penyesuai pemilihan sinyal (syncronize signal selector). Jika tombol SOURCE pada posisi :
• INT : sinyal dari channel A (CH-A) dan channel B (CH-B) untuk keperluan pen-trigger-an/penyulutan saling dijumlahkan,
• CH-A : sinyal untuk pen-trigger-an hanya berasal dari CH-A,
 • CH-B : sinyal untuk pen-trigger-an hanya berasal dari CH-B,
• AC : bentuk gelombang AC akan sesuai dengan sumber sinyal AC itu sendiri,
• EXT : sinyal yang masuk ke EXT TRIG dibelokkan/dibengkokkan disesuaikan dengan sumber sinyal.

19. POWER ON-OFF.

20. FOCUS digunakan untuk menghasilkan tampilan bentuk gelombang yang optimal.

21. INTENSITY pengatur kecerahan tampilan bentuk gelombang agar mudah dilihat.

22. TRACE ROTATOR digunakan utuk memposisikan tampilan garis pada layar agar tetap berada pada posisi horisontal. Sebuah obeng dibutuhkan untuk memutar trace rotator ini.

23. CH-B POSITION tombol pengatur untuk penggunaaan CH-B/channel (saluran) B.

24. VOLTS/DIV pelemah vertikal untuk CH-B.

25. VARIABLE.

26. VERTICAL INPUT input vertikal untuk CH-B.

27. AC-GND-DC untuk CH-B kegunaannya sama seperti penjelasan yang terdapat pada nomor 2.

28. COMPONET TEST IN terminal untuk komponen yang akan diuji. Ada beberapa jenis gelombang yang ditampilkan pada layar monitor osiloskop, yaitu:
• Gelombang segitiga.
 • Gelombang sinusoida
• Gelombang blok
• Gelombang gigi gergaji Ada dua tipe osiloskop menurut prinsip kerjanya, yaitu tipe analog / ART (Analog Real Time oscilloscope) dan tipe digital / DSO (Digital Storage Osciloscope). Osiloskop Analog (Analog Real Time oscilloscope) Osiloskop analog ini menggunakan tegangan yang diukur untuk menggerakkan berkas electron dalam tabung (CRT) sesuai bentuk gambar yang diukur. Pada layar osiloskop langsung ditampilkan bentuk gelombang tersebut. Osiloskop analog memiliki keunggulan seperti ; harganya relatif lebih murah daripada osiloskop digital, sifatnya yang realtime dan pengaturannya yang mudah dilakukan karena tidak ada tundaan antara gelombang yang sedang dilihat dengan peragaan di layar, serta mampu meragakan bentuk yang lebih baik seperti yang diharapkan untuk melihat gelombang-gelombang yang kompleks, misalnya sinyal video di TV dan sinyal RF yang dimodulasi amplitudo. Osiloskop Digital (Digital Storage Osciloscope) Osiloskop digital mencuplik bentuk gelombang yang diukur dan dengan menggunakan ADC (Analog to Digital Converter) untuk mengubah besaran tegangan yang dicuplik menjadi besaran digital. Osiloskop digital memberikan kemampuan ekstensif, kemudahan tugas-tugas akuisisi gelombang dan pengukurannya. Penyimpanan gelombang membantu para insinyur dan teknisi dapat menangkap dan menganalisa aktivitas sinyal yang penting. Jika kemampuan teknik pemicuannya tinggi secara efisien dapat menemukan adanya keanehan atau kondisi-kondisi khusus dari gelombang yang sedang diukur. Secara umum dapat kita simpulkan fungsi Oscilloscope / osiloskop yaitu untuk menganalisa tingkah laku besaran yang berubah-ubah terhadap waktu.

Dengan alat ukur Osiloskop ini kita dapat mengetahui :
• Berapa frekuensi, periode dan tegangan dari suatu sinyal elektronik.
• Mengukur besar tegangan listrik dan hubungannya terhadap waktu.
• Mengukur frekuensi sinyal yang berosilasi.
• Mengecek jalannya suatu sinyal pada sebuah rangakaian listrik.
• Membedakan arus AC dengan arus DC.
• Mengecek noise pada sebuah rangkaian listrik dan hubungannya terhadap waktu.
• dll


Demikian uraian singkat tentang osciloscope
Terimakasih atas perhatiannya semoga bermanfaat

Rahmat

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
rahmat Web Hosting